Sukses dalam berbisnis tentu menjadi harapan semua orang. Banyak yang berhasil meraih cita-cita tersebut, namun masih jarang yang menjalankan sesuai dengan syariat. Selaku Muslim tentu tidak perlu risau, karena bisa mencontoh bisnis ala Rasul.

Perjalanan bisnis Rasul dimulai sejak beliau berusia 12 tahun, saat itu beliau ikut pamannya yaitu Abu Thalib berdagang ke Syam. Selanjutnya ketika menuju usia dewasa, Rasulullah memulai usahanya sendiri, beliau mulai dengan berdagang kecil–kecilan.

Beliau membeli barang dari pasar, lalu dijual kembali kepada orang lain. Sampai pada akhirnya banyak investor yang mempercayai uangnya dikelola Rasulullah.

Dalam menjalankan bisnisnya, beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, tanggung jawab sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya). Setelah menikah, Rasul tetap berbisnis bersama Khadijah, menjalankan bisnis berdua dengan sukses.

Sebagian besar berpikir bahwa modal utama dari berbisnis adalah uang. Tetapi, dikutip dari pengantar buku yang berjudul “Bagaimana Rasulullah Berbisnis” yang dipaparkan oleh Dr. M. Syafi’i Antonio, bahwa modal utama bisnis yaitu kepercayaan.

Kepercayaan di dalamnya meliputi kejujuran, amanah dan pertanggungjawaban. Kedua adalah kompetensi yang meliputi profesionalisme, skill serta penguasaan aspek teknis.

Bisnis ala Rasul

Ilustrasi Bisnis ala Rasul
Ilustrasi Bisnis ala Rasul, Sumber : penjualanresmiaccurate.com

Walaupun Rasulullah adalah seorang Nabi dan Rasul yang harus menyampaikan perintah Allah kepada umat, tetapi Rasulullah tetap berdagang untuk memenuhi kebutahan sehari-harinya. Berikut ini beberapa prinsip dan cara bisnis ala Rasul yang dikutip dari berbagai sumber.

1. Memahami Hukum & Ilmu Bisnis (Jual-Beli)

Hukum jual beli itu sendiri terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 275 yang artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Nah, sudah jelas bahwa Allah menghalalkan jual beli. Dalam transaksi jual beli, Anda tentu harus menguasai produk, menerapkan strategi pemasaran, dan lain sebagainya.

2. Selalu Bersikap Jujur

Prinsip bisnis ala Rasul yang paling utama ialah kejujuran. Nabi Muhammad tidak hanya jujur kepada rekan bisnisnya, tetapi juga kepada para pelanggannya. Rasulullah selalu menjelaskan apa adanya keunggulan dari barangnya dan juga kelemahan dari barangnya tersebut.

Jadi, kejujuran yang menjadi keunggulan dari bisnis Rasulullah. Sebagai pembeli, Anda tentu akan memilih pedagang yang sudah terkenal jujur, karena merasa aman dan tidak akan ditipu.

3. Sopan Santun & Menghormati Pelanggan

Rasulullah menganggap semua pelanggannya adalah saudaranya. Seperti yang dikemukakan oleh Rasulullah, ‘Sayangilah saudaramu layaknya menyayangi dirimu sendiri’. Konsumen adalah raja, selalu perlakukan konsumen Anda dengan baik, sopan santun dan selalu hormati pelanggan.

Rasulullah juga menganggap segala keuntungan yang didapat adalah hadiah dari usaha. Ketika seseorang terbantukan dengan produk yang Anda jual, itulah seharusnya inti dari bisnis ala Rasul. Kepuasaan konsumen adalah nomor satu.

4. Menepati Janji

Ilustrasi Menepati Janji
Ilustrasi Menepati Janji, Sumber : dailymail.co.uk

Seperti firman Allah di QS Al Maidah ayat 1, ‘Wahai orang-orang yang beriman penuhilah janjimu.’

Rasulullah dalam berdagang selalu menjaga kepercayaan pelanggan, di antaranya adalah selalu menetapi janji. Beberapa pelanggan yang meminta barang atau memesan barang selalu ditepati janjinya oleh Rasulullah.

Nabi Muhammad selalu mengedepankan tanggung jawab kepada pelanggan dan integritas yang tinggi. Barang-barang yang dipesan oleh pelanggan akan disiapkan dan dikirimkan tepat waktu oleh Rasulullah.

Inilah yang juga harus Anda lakukan, ketika sudah ada perjanjian kepada partner atau pelanggan, usahakan Anda selalu menepatinya. Walaupun perjanjian tersebut tidak ada hitam di atas putih, Anda juga harus selalu menepati janji tersebut. Ingat, kepercayaan pelanggan bertahun-tahun yang hilang akan sulit didapatkan kembali.

5. Tidak Menjelekkan Bisnis Orang Lain

‘Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain’ (HR Muttafaq)

Itulah yang dikatakan oleh Rasulullah kepada pengikutnya. Sebab, prinsip berbisnis adalah memuaskan pelanggan, bukan mematikan bisnis orang lain. Anda tidak perlu juga mengatakan bahwa bisnis si A lebih jelek dari pada bisnis Anda sendiri. Anda harus menonjolkan kualitas produk Anda, dan biarkan pelanggan yang menilai.

6. Tidak Menjual Produk Buruk

Rasulullah mengajarkan untuk memilah mana produk yang baik dan produk yang buruk. Bahkan Rasulullah tidak pernah menjual produk yang kualitasnya rendah atau tidak pantas dijual. Dengan begitu, Rasulullah dapat selalu menjaga mutu barang-barang yang dijualnya.

Di samping itu, Rasulullah selalu mengelompokkan harga barang sesuai dengan kualitasnya. Harga barang yang kualitasnya baik akan dihargai lebih mahal dibandingkan dengan kualitas yang biasa-biasa saja.

7. Tidak Menimbun Barang

Dalam Islam, menyimpan barang agar mendapatkan keuntungan di kemudian hari disebut ihtikar. Misalnya Anda mempunyai cabai, lalu Anda menyimpan cabai tersebut untuk dijual di kemudian hari karena harga cabai yang murah.

Ini tidak diperbolehkan di dalam Islam karena itu sama saja menimbun. Jika memang kondisi harga seperti itu, Anda harus menjual dengan harga apa adanya.

8. Tidak Mengganggu Ibadah

Allah tidak menyukai orang yang terlalu sibuk berdagang sehingga melupakan kewajibannya, yaitu beribadah. Kebanyakan orang berdagang atau bekerja terlalu keras sehingga lupa waktu sholat dan bahkan lupa untuk membayar zakat. Usahakan Anda selalu menyempatkan waktu untuk sholat dan membayar zakat.

9. Membayar Upah Tepat Waktu

“Berikanlah upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya”

Itulah yang diucapkan Rasulullah. Sebelum kering keringatnya adalah jangan menunda-nunda gaji atau upah karyawan. Ketika Anda menggaji karyawan setiap tanggal 25, usahakan selalu tepat waktu. Selain itu, pembayaran upah atau gaji harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

10. Membayar Zakat & Banyak Bersedekah

Ilustrasi Membayar Zakat
Ilustrasi Membayar Zakat, Sumber : nu.or.id

Bagi Anda para pebisnis yang aset atau hartanya sudah mencapai nisab, Anda harus mengeluarkan zakat sebagaimana seorang Muslim.

Sejatinya, pebisnis sulit menghindari hal-hal syubhat, karena manusia tak luput dari salah dan khilaf. Maka dari itu, Rasulullah memerintahkan para pebisnis untuk menebus kesalahan atau kekurangan dalam berbisnis dengan bersedekah. Selain untuk menebus kesalahan, sedekah juga dapat membuka pintu rezeki.

Demikianlah ulasan mengenai beberapa prinsip dan cara bisnis ala Rasul. Memang tidak ada manusia yang bisa menandingi kehebatan Rasulullah, namun Anda harus berusaha untuk menjadikan beliau sebagai panutan dalam berbagai hal, termasuk berbisnis. Semoga bermanfaat. Simak artikel seputar bisnis lainnya di SEO Anak Sholeh.