Untuk memulai bisnis, tentu diperlukan sikap yang nantinya sikap tersebut mendukung perjalanan bisnis Anda. Sikap pebisnis tersebut di masyarakat dikenal juga dengan sebutan mental pengusaha. Mental tersebut bisa dipupuk dalam diri seseorang, namun ada juga yang mengatakan bahwa mental tersebut semacam previlege yang tidak bisa ditiru.

Apapun itu, penting bagi pengusaha untuk belajar banyak hal di dalam bisnis. Termasuk dalam hal ini adalah mempelajari sikap bagaimana sebaiknya menjadi seorang pebisnis. Bukankah jika diusahakan maksimal dengan konsekuen maka mental bisa dirubah?

Mental Pengusaha dan Karyawan

Mental Pengusaha
Mental pengusaha bisa dibangun sejak awal. Sumber Pexel @olly

Anda tentu harus bisa membedakan mental pengusaha dan karyawan. Pengusaha adalah orang yang memiliki bisnis dan memperkerjakan karyawan untuk bekerja. Sedangkan karyawan adalah orang yang bekerja dengan pengusaha. Tentu mental keduanya harus berbeda karena kedua peran tersebut berbeda.

Mental Pemimpin

Sebagai seorang pengusaha, Anda harus memiliki mental kepemimpinan. Dengan memiliki mental dan sikap sebagaimana seorang pemimpin, Anda akan bisa mudah melakukan manajemen karyawan Anda. Selain itu, Anda sebaiknya memiliki kebebasan dalam menentukan kebijakan, dengan mempertimbangkan masukan.

Untuk Anda sebagai pengusaha, tentu Anda harus memperhatikan karyawan Anda. Termasuk bagaimana mereka bersikap sebagai seorang karyawan. Seorang karyawan dituntut untuk loyal kepada perusahaan,dan merasa ia bagian dari perusahaan yang tidak terpisahkan. Hal ini terjadi atau tidak, tergantung bagaimana Anda memimpin perusahaan.

Perbedaan Boss dan Pemimpin

Mengapa untuk memimpin perusahaan Anda perlu memiliki mental pemimpin?

Antara boss dan pemimpin adalah berbeda. Boss adalah sematan untuk posisi tertentu, sedangkan pemimpin berkaitan dengan mentalitas. Biasanya yang di pahami adalah jika boss hanya memerintah anak buah untuk menyelesaikan permasalahan, sedangkan pemimpin membersamai anak buah untuk menyelesaikan permasalahan. Berbeda bukan?

Dengan membersamai karyawan menyelesaikan permasalahan, maka loyalitas karyawan akan semakin kuat terhadap perusahaan. Antara karyawan dan atasan ada kedekatan emosional. Dengan cara ini Anda sebagai seorang pengusaha akan mudah memberikan arahan atau edukasi bagaimana menjadi karyawan yang baik di perusahaan Anda.

Karyawan yang mendapatkan arahan dari seorang bos yang jarang turun ke lapangan akan merasa mendapatkan perintah dari majikan kepada pembantu atau budaknya. Sedangkan ketika karyawan mendapatkan arahan dari pemimpin maka mereka akan merasa mendapatkan masukan dari ketua tim, atau orang yang ada di tim mereka.

Mental Pengusaha Pemula dan Bagaimana Cara Membentuknya

Jika Anda adalah seorang pengusaha pemula, tentu Anda akan menghadapi banyak hal baru yang akan mempengaruhi kehidupan dan bisnis Anda. Berbagai hal baru, berbagai perubahan yang cepat, jika tidak disikapi dengan tepat maka akan menyulitkan bisnis Anda. Inilah hal yang perlu diperhatikan untuk memupuk mental pengusaha pemula.

1. Tidak Pantang Menyerah

Menjadi orang yang tidak lekas menyerah sangat di perlukan di abad ini. Persaingan akan semakin ketat. Jika Anda lekas menyerah menghadapi tantangan, maka bukan tidak mungkin tantangan berikutnya akan lebih berat dan Anda lebih tidak sanggup lagi untuk menghadapinya. Hal ini akan menjadikan buruk bisnis Anda secara keseluruhan.

Menanamkan sikap optimisme pada diri Anda, pada karyawan dan perusahaan secara umum adalah hal penting. Dengan sikap optimis, maka akan selalu ada semangat untuk tetap bekerja menyelesaikan pekerjaan dan mencapai target yang di harapkan.

2. Peka dengan Situasi

Seorang pengusaha dituntut untuk peka terhadap situasi yang terjadi. Baik itu situasi bisnis internal perusahaan, situasi pasar dan bahkan situasi sosial sekitarnya. Dengan mempelajari situasi, Anda bisa memberikan kebijakan terbaik untuk perusahaan Anda. Termasuk ketika terjadi situasi pandemi, terjadi krisis keuangan dan bahkan situasi politik yang tidak menentu.

Kebijakan yang salah karena kesalahan dalam membaca situasi akan menyebabkan banyak kesia-siaan atau bahkan kerugian. Kita ambil contoh misalnya ketika Lebaran 2020, banyak pengusaha makanan yang merugi karena mereka terlanjur memproduksi makanan lebaran dalam jumlah besar. Namun ternyata situasi pandemi mendorong masyarakat memilih tidak untuk berbelanja makanan lebaran.

3. Inovatif

Saat ini bisnis telah memasuki era disrupsi, era dimana perubahan akan senantiasa berjalan dan semua dituntut untuk menyesuaikan dengan perubahan besar. Jika Anda tidak melakukan perubahan, maka Anda akan tertinggal jauh di belakang. Selalu ada perubahan di setiap periode waktu.

Tuntutan untuk berpikir inovatif tidak bisa dihindarkan. Dengan menggunakan metode bisnis konvensional, maka Anda tidak akan selamat dari ketertinggalan. Salah satu perubahan besar yang sangat berpengaruh pada bisnis adalah di dunia digital dengan penggunaan digital marketing. Digitalisasi perusahaan menjadi salah satu kebutuhan di abad ini.

4. Sportif

Bagaimanapun Anda berbisnis, rejeki Anda sudah ada yang mengaturnya. Meskipun Anda melakukannya dengan curang atau jujur, Anda akan tetap menerima apa yang telah menjadi bagian Anda. Yang berbeda adalah, rejeki yang Anda peroleh berkah atau tidak, halal atau tidak dan semua akan menjadi pertanggungjawaban di kemudian hari.

Memupuk mental sportifitas dalam bisnis sangat diperlukan sejak Anda memulai bisnis. Sekali Anda melakukan kecurangan dan Anda akan merasa aman, maka kedepannya Anda akan terbiasa melakukannya tanpa ada rasa bersalah. Selain merugikan orang lain, berbisnis dengan curang juga akan merugikan bisnis Anda sendiri.

5. Saling Mendukung Antar Pemula

Yakinkan pada diri Anda bahwa kebaikan apapun yang Anda tebarkan kepada orang lain, akan kembali kepada Anda baik langsung ataupun tidak langsung. Bantulah sesama pengusaha pemula untuk berkembang meskipun dengan cara yang sederhana, seperti memberikan ulasan positif pada halaman mereka.

Bisa juga dengan memastikan bisnis mereka berjalan dengan cara membeli produk atau layanan yang mereka jual ketika Anda membutuhkan. Dalam dunia digital, tidak ada istilah saingan atau rival. Sedangkan kompetitor adalah sesama pemain yang nantinya akan bertanding untuk meraih posisi terbaik. Masing masing akan memiliki posisi, baik pertama, kedua dan seterusnya tanpa harus menjatuhkan satu sama lain.

Mental Pengusaha
Membantu setiap pebisnis pemula menjadikan kuat dalam hubungan. Sumber Unsplash @icons8

Mental Pengusaha Tionghoa yang Patut Ditiru

Salah satu kelompok yang menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan dijadikan acuan dalam trik bisnis adalah kelompol etnis Tionghoa yang sudah mendiami republik ini sejak lama. Apa saja mental pengusaha etnis Tionghoa yang patut dijadikan teladan?

1. Mengenal Bisnis Sejak Muda

Tidak dipungkiri lagi, kesuksesan kelompok etnis Tionghoa ketika berbisnis karena mereka telah mengajarkan bisnis kepada anak-anaknya sejak muda. Mungkin dari hal yang paling sederhana dahulu, yakni membantu jualan. Anda bisa dengan mudah mendapati toko kelontong milik etnis Tionghoa dijaga oleh anaknya yang masih usia sekolah.

Membiasakan anak terlibat pada kegiatan bisnis di masa muda menjadikan anak akan terbiasa dengan aktifitas tersebut. Ketika ia sudah matang dan dibiarkan untuk menjalankan bisnis sendiri, maka mereka akan lebih siap.

2. Tertib Administrasi

Salah satu faktor keberhasilan etnis Tionghoa dalam bisnis adalah manajemen keuangan. Untuk urusan catat mencatat, sebaiknya Anda harus menertibkan pencatatan bisnis Anda, meskipun bisnis Anda masih skala kecil. Dengan menertibkan administrasi, Anda akan mudah mengalokasikan pos keuangan Anda. Dengan demikian akan terlihat jelas mana penghasilan Anda, dan mana investasi Anda.

3. Selalu Menyisihkan untuk Investasi

Apakah investasi dilakukan ketika mengawali usaha? Tentu tidak. Anda harusnya melakukan investasi sepanjang Anda menjalankan bisnis. Sisihkan penghasilan Anda untuk investasi bisnis. Dengan melakukan investasi, bisnis Anda akan semakin besar. Lebih baik menyimpan dana dalam bentuk investasi daripada tabungan, meskipun ketersediaan uang cash diperlukan dalam bisnis.

4. Berani Mengambil Resiko

Terkadang dalam bisnis kerugian atau laba tidak bisa diprediksi. Namun Anda harus berani mengambil resiko dengan menginvestasikan dana Anda untuk memulai usaha. Di awal berdirinya bisnis memang berat, namun ketika dijalani dengan sabar, Anda akan menuai hasilnya di kemudian hari. Inilah mental pengusaha etnis Tionghoa yang bisa kita ikuti.

5. Senantiasa Belajar

Untuk membangun binsis yang matang, dperlukan pembelajaran. Setiap kejadian pada sebuah bisnis hendaknya di jadikan pelajaran untuk bekal bisnis kedepan. Lingkaran kekeluargaan pada klan atau marga pada masyarakat Tionghoa cukup kuat. Mereka akan belajar satu sama lain, terutama dalam hal bisnis.

6. Menjaga Hubungan Baik

Seorang pengusaha Tionghoa senantiasa akan membuka hubungan yang baik dengan pelanggannya. Karena itulah, pelanggan atau konsumen akan senantiasa ‘terikat’ dan tidak hilang. Langkah ini akan memastikan bisnis berjalan dan bertahan dari waktu ke waktu karena pelanggan akan selalu ada dan tentu saja menjadikan binsis tetap bertahan.

Bagaimana Mental Pengusaha Muslim Dibentuk?

Seorang muslim tentunya harus memiliki mental bisnis yang lebih bagus. Mereka hendaknya tentu mengedepankan akhlak dan adab dalam berbisnis. Untuk mendapatkan mental seperti itu tidak mudah. Anda tentu harus melewati fase berikut.

1. Kesadaran

Seorang pengusaha muslim tentu harus paham dan sadar akan hal ini. Mereka adalah hamba Sang Pencipta dan apa apa yang ada pada mereka, termasuk harta yang dikelola adalah titipan dan akan dimintai pertanggungjawaban di kemudian hari. Mental pengusaha muslim seperti ini akan membentuk karakter yang tenang, baik ketika ia sukses atau mengalami kegagalan.

Mental Pengusaha
Seorang muslim dituntut untuk taat ketika berbisnis. Sumber Pexels @mentatdgt-330508

 2. Ketaatan

Ketika seoran muslim menyadari posisi dirinya, yakni sebagai seorang hamba Tuhan, maka mereka akan taat kepada Tuhannya. Prinsip ketaatan inilah yang akan membersamai mereka dalam menjalankan bisnis. Bisnis akan dijalankan sesuai dengan hukum syara’ dimana hukum ini akan memberikan rasa tenteram, nyaman dan keadilan.

3. Pembelajaran

Sadar dan taat saja sebenarnya tidak cukup. Dalam rangka meraih ketaatan, Anda harus dituntut mengetahui mana saja yang menjadi larangan agama dan mana saja yang dibolehkan. Untuk mengetahuinya, tentu Anda harus belajar lebih banyak hal mengenai akad-akad dalam bisnis sesuai syariah.

Penutup

Menjadi seorang pengusaha sukses adalah cita-cita semua orang. Namun diperlukan banyak pembelajaran untuk merealisasikannya. Selalu mempelajari berbagai hal dalam bisnis adalah kunci kesuksesan di samping mengusahakan apa yang dipelajari.

Jika Anda seorang muslim, maka hendaknya menjadi pengusaha adalah amanah, dan hal itu bisa dijadikan wasilah untuk beramal baik untuk kehidupan akhirat. Semoga artikel di atas bisa menginspirasi Anda semua. Terima kasih.

Open chat
Kami senang membantu Anda