Dalam sebuah website, agar keberadaan website tersebut bisa bekerja dengan maksimal maka ada berbagai hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah meningkatkan UX (User Experience) atau pengalaman pengguna termasuk Lean UX yang akan dibahas pada artikel kali ini.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa UX adalah suatu proses pembuatan produk berbasis pengguna, dimana ketika pengalaman pengguna yang menyenangkan atau memiliki nilai yang positif  maka menandakan desain UX tersebut baik dan berhasil.

Dalam memperoleh desain UX yang baik diperlukan beragam riset (UX research), tes, umpan balik dan sebagainya yang tersusun dalam satu siklus dimana siklus tersebut terkadang memakan waktu yang lama, menciptakan pemborosan dan terkesan bertele-tele. Pada perkembangannya ada metode baru yang memungkinkan terjadi perampingan proses sehingga pemborosan dan waktu yang lama bisa diatasi.

Lean UX
Siklus UX. Sumber Unsplash

Pengertian Lean UX

Lean UX merupakan teknik yang sangat berguna saat mengerjakan proyek website di mana kecepatan dalam proses menjadi utama sehingga desain UX dapat tercipta sesuai harapan pengguna. Teknik UX tradisional sering tidak memiliki cukup waktu untuk pengerjaan yang mengejar kecepatan, mereka tidak ada cukup waktu untuk mengirimkan desain UX dengan cara yang seperti biasanya.

Pada dasarnya Lean UX dan desain UX lainnya semuanya memiliki tujuan yang sama; yakni memberikan pengalaman pengguna yang bagus, hanya saja cara mengerjakan sebuah proyek sedikit berbeda antara Lean UX dengan desain UX lainnya.

Lean UX fokus pada pengalaman pengguna dalam hal kecepatan proses, namun kurang fokus pada hasil, dan ini berbeda dengan UX tradisional. Karena itu Lean UX membutuhkan tingkat kolaborasi dengan seluruh tim yang lebih baik lagi. Tujuan utamanya adalah fokus untuk mendapatkan umpan balik sedini mungkin sehingga dapat digunakan untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Mengapa harus Lean UX ?

Dalam UX tradisional, proyek pembangunannya berdasarkan kebutuhan dan hasil kerja. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa desain UX yang dihasilkan untuk klien dibuat sedetail mungkin dan menanggapi hasil yang dikirim sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan di awal.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa Lean UX membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, dengan mengurangi penekanan pada deliverable dan lebih fokus pada actual experience yang akan didesain. Teknik dokumentasi yang tradisional disederhanakan menjadi komponen penting saja, untuk memberikan informasi yang hanya diperlukan untuk implementasi.

Proses mendesain UX yang detail dan panjang sangat dihindari dalam Lean UX. Lean UX lebih mendukung proses desain yang singkat, berulang, dengan feed back yang cepat dan intensitas yang tinggi dari seluruh anggota tim.

Karena itu untuk menangani klien yang membutuhkan hasil yang sesegera mungkin,  kecepatan pelayanan atau desain UX yang sering berganti (mungkin karena revisi atau memang untuk meciptakan pengalaman pengguna yang unik) maka dalam memulai proyeknya menggunakan Lean UX sangat direkomendasikan.

Prinsip Lean UX

Karena itu dalam pelaksanaannya diperlukan suatu prinsip yang harus dipegang bagi keseluruhan tim, baik tim yang membidani desain grafis, desain UI, atau desain UX sendiri. Beberapa prinsip dari proses Lean UX adalah sebagai berikut.

  • Hilangkan hal-hal yang tidak penting. Hal yang tidak penting, meskipun nantinya berpengaruh pada desain UX, harus dihilangkan karena hal inilah yang menjadikan prosesnya lama. ¬†
  • Memperkuat pembelajaran. Lean UX mengharuskan pekerjaan yang cepat sehingga untuk sekedar berpikir harus dilakukan dengan cepat.
  • Menentukan selambat mungkin.
  • Menyampaikan sesegera mungkin. Hal ini untuk sesegera mungkin anda memperoleh feedback.
  • ¬†Pemberdayaan tim. Penggunaan metode Lean UX mengharuskan menggunakan tim yang benar-benar solid.
  • Membangun integritas. Keseriusan setiap personil tim harus dipastikan.
  • Melihat secara keseluruhan. Lean UX tidak memperhatikan hal detail.

Siklus Lean UX

Jika dalam pembuatan desain UX tradisional dikeluhkan siklus dengan proses yang lama maka di Lean UX di tawarkan siklus dengan proses pendek. Seperti apa siklus Lean UX? Siklus lean UX dapat diringkas dalam tiga tahapan yakni tahap berpikir, tahap berbuat dan tahap pemeriksaan.

1. Tahap berpikir

Dalam fase berpikir ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh praktisi UX dan tim. Seperti penelitian secara umum, pembuatan asumsi dan ide, dan berbagai kegiatan lainnya yang mana pada tahap berpikir ini anda akan menangani masalah secara efektif untuk menghasilkan hipotesis.

Kemungkinan besar anda akan mengadakan sesi pembicaraan mengenai pendapat di mana anda akan menyatakan masalah kemudian menghasilkan ide dan asumsi. Asumsi adalah pernyataan yang menurut anda benar dan membantu desainer untuk mendapatkan pemahaman tentang ide yang akan mengarah pada hipotesis.

Setelah memiliki hipotesis, anda dapat membuat persona pengguna. Persona pengguna anda akan mencakup informasi berharga seperti pola perilaku, tujuan, sikap, keterampilan, dan sebagainya. Dengan menggunakan cara ini akan menjadikan desainer UX mengetahui siapa pengguna yang akan menggunakan produk anda sehingga anda dapat mendesain untuk mereka.

2. Tahap berbuat

Pada tahapan ini, anda akan membangun produk prototipe dan wireframes. Disitulah tempat desainer UX dan UI bekerjasama dalam membuat solusi dari hipotesis yang mereka buat selama tahap berpikir. Di sinilah perancang beralih dari pemikiran abstrak ke solusi yang lebih spesifik dan juga konkrit.

Lean UX sangat cocok untuk pembuatan produk prototipe, karena Lean UX melibatkan pengujian beberapa hipotesis dalam kerangka waktu yang cepat. Kemudian anda akan membuat solusi tersebut menggunakan berbagai metode baik itu situs web, aplikasi seluler, atau jenis produk lainnya.

3. Tahap pemeriksaan

Pada atahap ini anda akan menguji beberapa prototype yang sudah dibuat. Sebenarnya pada tahap memeriksa hanya memvalidasi solusi yang sudah anda temukan dan anda buat. Pada tahap ini anda mengukur validitas hipotesis dan asumsi anda yang dapat membantu anda ketika anda memulai kembali atau mengulang proses tahapan berpikir, tahapan berbuat, dan tahapan memeriksa.

Produk minimum yang layak atau MVP adalah konsep inti di Lean UX. Idenya adalah untuk membangun versi paling dasar dari konsep tersebut, mengujinya dan jika tidak ada hasil maka dibuang. Kemudian produk MVP yang lolos uji maka akan masuk ke pengembangan lebih lanjut tanpa terlalu banyak kesulitan.

Lean UX
Metode Lean UX. Sumber Unsplash

Kesimpulan

Setiap metode pembangunan UX yang sesuai dengan keinginan pengguna, tentu memiliki keunggulan dan juga kelebihan. Penggunaan Lean UX yang membutuhkan siklus yang lebih pendek memungkinkan untuk pembangunan model UX yang serig berubah dalam periode waktu tertentu. Sebagian klien memang menginginkan pengalaman pengguna yang terlihat unik.

Jika anda menginginkan desain website yang menarik dan memiliki UX yang sesuai dengan pengguna maka anda bisa mempercayakan kepada SEO Anak Sholeh yang melayani jasa pembuatan website profesional.